Jumat, 22 Juli 2022

Penyampaian Hasil Kegiatan Dan Survey Pelanggan ( mata kuliah Mutu layanan kebidanan dan kebijakan kesehatan)

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.     LATAR BELAKANG

Masalah kesehatan bagi masyarakat telah menjadi suatu kebutuhan yang utama, kebutuhan yang dimaksud adalah kebutuhan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang prima. Seiring dengan meningkatnya taraf kehidupan masyarakat, maka semakin meningkat tuntutan masyarakat akan nilai-nilai kesehatan.

Hal ini menjadikan lembaga kesehatan dituntut untuk meningkatkan kualitas akan pelayanan jasa kesehatan yang lebih baik, tidak saja pelayanan kesehatan yang bersifat menyembuhkan saja tetapi memberikan kepuasan bagi konsumen. Salah satu lembaga kesehatan adalah rumah sakit, fungsi rumah sakit dewasa ini  bertambah kearah pelayanan kesehatan yang menyeluruh dan terintegrasi seiring dengan berkembangnya ilmu dan teknologi. 

Dalam upaya penyembuhan baik bagi konsumen yang sakit ataupun bagi konsumen yang membutuhkan konsultasi kesehatan dan upaya pencegahan berbagai macam penyakit serta peningkatan kesehatan. Dalam upaya mencapai efisiensi penyelenggaraan rumah sakit, upaya pendayagunaan fasilitas rumah sakit secara  lebih baik kini menjadi salah satu kegiatan pokok. Hal seperti ini belum pernah terjadi di masa lalu, salah satu upaya pendayagunaan fasilitas rumah sakit.

Menurut Kotler dikutip oleh Ardian (2001:67) alasan mengapa sebuah rumah sakit sampai harus dipasarkan karena : iklim hukum dan etika yang berubah cepat, suplai profesional yang banyak, meningkatnya ketidakpuasan terhadap profesionalitas dan kemajuan teknologi. Kehidupan rumah sakit dimasa yang akan datang akan bergantung pada kemampuannya untuk memberikan respon terhadap kebutuhan konsumen melalui pelayanan yang berkualitas.  Adanya persaingan antar rumah sakit yang semakin ketat, maka peningkatan kualitas pelayanan sebuah rumah sakit sangat penting diperhatikan. Persaingan terjadi bukan saja dari sisi teknologi peralatan tetapi persaingan dalam memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Kualitas pelayanan kesehatan rumah sakit dicerminkan sebagai jasa pelayanan kesehatan dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan konsumen sebagai pemakai jasa pelayanan rumah sakit. Pelayanan yang diberikan tersebut dipadukan dengan sumber daya yang dimiliki oleh rumah sakit yang dimulai dengan pelayanan calon pasien (pra penyembuhan), selama perawatan (proses) dan ketika pasien meninggalkan rumah sakit (paska penyembuhan) (Ardian, 2001:68).

Pasien akan merasa terpuaskan bila harapan akan pelayanan kesehatan yang diterimanya memenuhi standar kualitas yang diinginkan. Terpuasnya pasien dan konsumen rumah sakit akan meningkatkan brand royalty yang semakin kuat. Pelayanan rumah sakit meliputi fasilitas fisik, fasilitas perawatan, dan berbagai fasilitas pendukung yang tersedia di rumah sakit tersebut. Bagi manajemen rumah sakit, mengetahui keinginan dan kebutuhan konsumen adalah hal yang utama, untuk itu manajemen perlu mendapatkan input dari konsumen berupa harapan akan jasa yang diinginkan (expected service).

Kondisi ini sangat membantu manajemen untuk mendeskripsikan dan mewujudkan kedalam spesifikasi kualitas pelayanan. Namun realitas yang ada, terjadi beberapa perbedaan antara harapan konsumen dan kualitas pelayanan jasa yang diberikan oleh manajemen rumah sakit. Bila perbedaan ini tidak ditanggapi dengan baik dikhawatirkan akan mengganggu kelancaran operasional dan reputasi rumah sakit dimasyarakat. Untuk mengatasi kejadian tersebut manajemen rumah sakit perlu mengantisipasi dengan melakukan komunikasi dua arah antara pihak manajemen dengan konsumen sebagai pengguna jasa pelayanan kesehatan sehingga apa yang direalisasikan oleh rumah sakit sesuai dengan harapan konsumen.

Menurut Ardian (2001:68) untuk dapat menilai tingkat kepuasan konsumen, ada dua atribut yang diamati dirumah sakit yang bisa dinilai yaitu :

1.      atribut pertama adalah pelayanan sumber daya manusia yang meliputi

a.         dokter yang bertugas memeriksa pasien

b.        paramedis terdiri dari perawat, asisten dokter yang bertugas membantu tugas dokter dan melayani pasien

c.         karyawan terdiri dari petugas administrasi yang bertugas mendata pasien yang ingin berobat.

2.      Atribut kedua adalah pelayanan lingkungan dan ruangan yang meliputi :

a.       ruang tunggu pasien,

b.      sarana parkir dan

c.       kebersihan lingkungan. 

Sedangkan tanggapan konsumen yang diteliti merupakan dimensi (kriteria) penentu kualitas jasa pelayanan mengenai keandalan (reliability), daya tanggap (responsiveness), keyakinan/jaminan (assurance), empati/perhatian (emphaty), dan bukti langsung/penampilan (tangible).

Kemudian yang akan menjadi indikator tanggapan konsumen, yaitu :

·         pertama adalah tingkat harapan, yang dimaksud disini adalah tingkat penilaian  harapan konsumen terhadap fasilitas-fasilitas atau unsur-unsur pelayanan.

·         Kedua adalah tingkat kinerja, yang merupakan tingkat penilaian konsumen terhadap pelaksanaan pelayanan. Kedua indikator tersebut ditujukan kepada sumber daya manusia rumah sakit yang terdiri dari dokter, petugas penerima (administrasi), perawat dan petugas lainnya. 

 

B.     RUMUSAN MASALAH

·         Bagaimana penyampaian hasil kegiatan dan survey pelanggan yg ada di RSUD ?


BAB II

PEMBAHASAN

A.     PENYAMPAIAN HASIL KEGIATAN

Data temuan yang terkumpul diolah dan dianalisa untuk kemudian di sajikan dalam bentuk laporan pendek organisasi / unit pelayanan.jika nilai tingkat kepatuhan dibawah 80% maka keadaan ini perlu diperbaiki dengan melakukan intervensi terhadap penyebab rendahnya tingkat kepatuhan terhadap standar.

 

B.     SURVEY PELANGGAN

Dilakukan secara sederhana dengan membuat kuesioner kemudian dibagikan kepada pasien /kliensambil diminta untuk diisi dan segera mengembalikannya pada kotak yang tersedia di rumah sakit. Jika ditemukan lebih dari 5 persen pasien/klien tidak puas,perlu dilakukan tindakan segera untuk mengetahui sebab-sebabketidakpuasan pasien,misalnya melalui studi kualitatif (diskusi atau wawancara mendalam) atau menggunakan kuisioner terstruktur melalui wawancara langsung kepada pasien/klien.

 

C.     KEPUASAN PELANGGAN

Menurut Day (dalam Tse dan Wilson) dikutip oleh Fandy (2000:147) menyatakan bahwa kepuasan atau ketidakpuasan pelanggan adalah respon pelanggan terhadap evaluasi ketidaksesuaian atau diskonfirmasi yang dirasakan antara harapan sebelumnya dan kinerja aktual produk yang dirasakan setelah pemakaiannya.

Menurut Engel dikutip oleh Fandy (2000:147) bahwa kepuasan pelanggan merupakan evaluasi purnabeli di mana alternatif yang dipilih sekurang-kurangnya memberikan hasil sama atau melampaui harapan pelanggan, sedangkan ketidakpuasan timbul apabila hasil yang diperoleh tidak memenuhi harapan pelanggan.

Model Pengukuran Kepuasan Konsumen Ada empat metode dalam mengukur kepuasan konsumen (Tjiptono, 2004:210) :

1)      Sistem keluhan dan saran Setiap organisasi yang berorientasi pada pelanggan perlu menyediakan kesempatan dan akses yang mudah dan nyaman bagi para pelanggannya guna menyampaikan kritik, saran, pendapat, dan keluhan mereka. Media yang digunakan bisa berupa kotak saran yang ditempatkan pada lokasi yang strategis (yang mudah dijangkau dan dilewati pelanggan), kartu komentar (biasanya dikirim melalui via pos ke perusahaan), saluran telepon khusus bebas pulsa.

2)       Ghost Shopping Salah satu cara memperoleh gambaran mengenai kepuasan pelanggan adalah dengan memperkerjakan beberapa ghost shoppers untuk berperan atau berpura-pura sebagai pelanggan potensial produk perusahaan dan  pesaing.

3)       Lost Costumer Analysis Sedapat mungkin perusahaan menghubungi para pelanggan yang telah berhenti membeli  atau yang telah pindah pemasok agar dapat memahami mengapa hal itu terjadi dan supaya dapat mengambil kebijakan perbaikan atau  penyempurnaan selanjutnya.

4)      Survei Kepuasan Pelanggan Melalui survei perusahaan akan memperoleh tanggapan dan balikan secara langsung dari pelanggan dan juga memberikan kesan positif bahwa perusahaan menaruh perhatian terhadap para pelanggannya.

a.       Directly reported satisfaction Pengukuran dilakukan menggunakan item-item spesifik yang menanyakan langsung tingkat kepuasan yang dirasakan pelanggan.

b.      Derived Satisfaction Pertanyaan yang diajukan menyangkut 2 hal utama yaitu

§  tingkat harapan atau ekspektasi pelanggan terhadap kinerja produk atau perusahaan pada atributatribut relevan, dan

§  persepsi pelanggan terhadap kinerja aktual produk atau perusahaan bersangkutan (perceived  performance).

c.       Problem Analysis Responden diminta mengungkapkan masalah-masalah yang mereka hadapi berkaitan dengan produk atau jasa perusahaan dan saran-saran perbaikan.

d.      Importance-performance Analysis Dalam teknik ini responden diminta untuk menilai tingkat kepentingan berbagai atribut relevan dan tingkat kinerja perusahaan (perceived performance) pada masingmasing atribut tersebut. kemudian, nilai rata-rata tingkat kepentingan atribut  dan kinerja perusahaan akan dianalisis di Importance-Performance Matrix. Matriks ini sangat bermanfaat sebagai pedoman dalam mengalokasikan sumber daya organisasi yang terbatas pada bidang-bidang spesifik, sehingga perbaikan kinerja bisa berdampak besar pada kepuasan pelanggan total.

Metode Pengumpulan Data Dalam penelitian ini, peneliti melakukan pengumpulan data dengan cara kuesioner, dimana metode kuesioner adalah  cara pengumpulan data melalui daftar pertanyaan yang diberikan oleh responden untuk diisi. Melalui kuesioner ini data yang diperoleh dari jawaban responden diolah untuk mengetahui atribut-atribut manakah yang memiliki tingkat kepuasan  yang paling tinggi.   Metode Pengukuran Data Dalam penelitian memakai skala likert dengan ketentuan ujung kiri dengan angka rendah menunjukkan suatu jawaban yang negatif sedangkan ujung kanan dengan angka besar menunjukkan menunjukkan suatu jawaban yang positif:  

Sangat Tidak Setuju         (STS)

Tidak Setuju                     (TS)

Netral                               (N)

Setuju                               (S)

Sangat Setuju                   (SS)

(STS)

(TS)

(N)

(S)

(SS)

 

 

 

 

 

1

2

3

4

5

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Metode Analisis Data  Metode pengukuran kepuasan konsumen dengan menggunakan survey kepuasan pelanggan, alat analisis yang digunakan adalah model Indeks Kepuasan Pelanggan  (Fandy, 1998:38)

peralatan medis memadai seperti stetoskop, tensi meter, alat suntik sebesar 80%, ruang periksa pasien bersih, nyaman dan luas sebesar 80%.Semua variabel tangible adalah tidak puas. Indikator dengan nilai terkecil sarana area parkir yang luas dan nyaman.

Reliability Indeks Kepuasan Konsumen dengan dimensi reliability indikatornya meliputi dokter mempunyai kemampuan dalam pengobatan terhadap pasien sebesar 85%,dokter, perawat, petugas administrasi datang tepat waktu sebesar 70%, prosedur pemeriksaan mudah dan cepat dalam melayani pasien sebesar 80%. Semua variabel reliability adalah tidak puas. Indikator dengan nilai terkecil dokter, perawat, petugas administrasi datang tepat waktu.

Responsiveness Indeks Kepuasan Konsumen dengan dimensi responsiveness indikatornya meliputi dokter, petugas administrasi mempunyai keinginan untuk memberikan pelayanan kepada pasien sebaik mungkin sebesar 85%, dokter tepat dalam memberikan resep kepada pasien sebesar 85%, petugas administrasi cepat tanggap dalam menerima setiap pasien sebesar

70%, Semua variabel responsiveness adalah tidak puas. Nilai terkecil pada indikator dokter tepat dalam memberikan pelayanan kepada pasien.

Empathy Indeks Kepuasan Konsumen dengan dimensi empathy indikatornya meliputi dokter memberikan penjelasan tentang penyakit pasien sebesar 84%, dokter dan perawat memperhatikan keluhan dan penyakit pasien sebesar 75%, ada hubungan komunikasi yang baik antara dokter dan pasien sebesar 89%, petugas administrasi sopan dan ramah dalam menerima dan mendata pasien sebesar 80%. Semua vaiabel empathy adalah tidak puas. indikator dengan nilai terkecil dokter memberikan penjelasan tentang penyakit pasien.


BAB III

PENUTUP

 

A.     KESIMPULAN

Berdasarkan hasil kegiatan untuk survey pelanggan menggunakan kuisioner, sedangkan  yang telah dilakukan mengenai kinerja dan harapan pasien terhadap kualitas pelayanan jasa di RSUD Salatiga Semarang, maka dapat disimpulkan secara keseluruhan Indeks Kepuasan Pelanggan menunjukkan ketidakpuasan pasien rawat jalan terhadap kinerja RSUD Salatiga Semarang sehingga pihak  Rumah Sakit perlu memperbaiki seluruh kualitas pelayanan terutama yang perlu mendapat perhatian adalah area parkir yang kurang memadai, dokter, perawat dan petugas administrasi sering terlambat datang, dokter tepat dalam memberikan resep kepada pasien, dokter memiliki pengetahuan yang luas dalam menjalankan profesinya, dokter memberikan penjelasan tentang penyakit pasien.

 

B.     SARAN

Berdasarkan simpulan tersebut maka saran yang bisa diberikan untuk RSUD Salatiga adalah :

a.    Bahwa semua dimensi kualitas jasa (Tangible, reliability, responsiveness, assurance, empathy) terdapat kesenjangan antara harapan dan kinerja  maka perlu mendapat perhatian yang lebih.

b.    Secara umum ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dari kelima dimensi kualitas jasa adalah :

§   Pada dimensi tangible yang perlu perbaikan adalah ruang tunggu pasien bersih, nyaman dan luas, sarana area parkir luas dan nyaman, penampilan dokter, perawat, petugas administrasi rapi dan bersih, peralatan medis memadai seperti stetoskop, tensi meter, alat suntik, ruang periksa pasien bersih, nyaman dan luas. Dengan memperbaiki seluruh variabel pada dimensi tangible maka pasien merasa nyaman, ruang parkir semakin luas, pakaian petugas medik semakin rapi dan bersih, peralatan medis semakin lengkap.

§   Pada dimensi reliability yang perlu perubahan adalah dokter mempunyai kemampuan dalam pengobatan terhadap pasien, diagnosis dokter terhadap penyakit pasien terbukti akurat, dokter, perawat, petugas administrasi datang tepat waktu, prosedur pemeriksaan mudah dan cepat dalam melayani pasien. Alasan rumah sakit perlu merubah semua varibel agar dokter meningkatkan kemampuan dalam mengobati pasien, dokter dapat mendiagnosis penyakit pasien lebih akurat,   dokter, perawat dan petugas administrasi  datang lebih tepat waktu, pasien lebih mudah mengikuti prosedur pemeriksaan di rumah sakit.

§   Pada dimensi responsiveness yang perlu disarankan adalah dokter, petugas administrasi mempunyai keinginan untuk memberikan pelayanan kepada pasien sebaik mungkin, dokter tepat dalam memberikan resep kepada pasien, petugas administrasi cepat tanggap dalam menerima setiap pasien, petugas administrasi mampu mendata pasien dengan cepat. Alasan menyarankan rumah sakit untuk memperbaiki semua variabel responsiveness supaya petugas medik dalam memberikan pelayanan kepada pasien lebih baik, dokter lebih teliti dalam memberikan resep, petugas administrasi lebih respon dalam menerima pasien, petugas administrasi lebih cepat dalam mendata pasien.

§  Pada dimensi assurance yang perlu dicermati adalah dokter memiliki pengetahuan yang luas dalam menjalankan profesinya, dokter dan perawat memiliki reputasi yang baik dalam menjalankan tugasnya, petugas administrasi cepat dan teliti dalam mendata setiap pasien, dokter, perawat dan petugas administrasi mempunyai sifat yang dapat dipercaya oleh pasien dalam menangani keluhan pasien. Alasan mencermati seluruh variable assurance supaya dokter memiliki profesionalisme yang tinggi dalam menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai seorang dokter, dokter dan perawat lebih meningkatkan reputasi dengan memberikan pelayanan yang semaksimal mungkin kepada pasien, pasien merasa puas dengan ketelitian sehingga menghindari kesalahan  dan kecepatan dalam melayani pasien supaya tidak menunggu antrean terlalu lama, petugas medik menunjukkan sifat yang baik dan berwibawa sehingga pasien mempercayai segala tindakan petugas medik sudah sesuai dengan harapan pasien.

§  Pada dimensi empathy yang perlu dilakukan adalah dokter memberikan penjelasan tentang penyakit pasien, dokter dan perawat memperhatikan keluhan dan penyakit pasien, ada hubungan komunikasi yang baik antara dokter dan pasien, petugas administrasi sopan dan ramah dalam menerima dan mendata pasien. Alasan rumah sakit perlu melakukan perbaikan agar pasien lebih memahami penyakit yang dideritanya, pasien merasa mendapat perhatian yang penuh, komunikasi yang baik membantu pasien untuk lebih mengerti dan memahami semua petunjuk dokter, pasien merasa diperhatikan tidak hanya karena kewajiban petugas tetapi dengan kesungguhan petugas administrasi dalam melayani setiap pasien.

 


DAFTAR PUSTAKA

 

Azwar, Saifuddin. 2003. Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. Azwar, Azrul. 1996. Pengantar Administrasi Kesehatan. Edisi 3. Jakarta: PT. Binarupa Aksara. 

 

Barry, R. 2000. Service Management and Operation. Second edition. new Jersey : Prentice-Hall.

 

Harahap, P. 2003. Pengaruh Kualitas Pelayanan, Kepuasan Hidup, dan Lokasi Strategis Terhadap Loyalitas Pasien Rawat Inap di RSUD Dr. Soewondo Kabupaten Kendal. Jurnal Ekonomi Perusahaan Vol. 10, No. 2, Hal:128-147.




CONTOH LAMPIRAN SURVEY PELANGGAN











EPIDEMIOLOGI PREVENTIVE ( PENCEGAHAN)

BAB I

 PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Kesehatan telah menjadi kebutuhan utama bagi setiap manusia di dunia dalam menjalankan aktivitas hidup. Berdasarkan pengertiannya bahawa keadaan sehat merupakan kondisi dimana seorang, sejahtera secara fisik, mental dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Artinya apabila salah satu dari ketiga unsur tersebut tidak dalam kondisi yang baik (dengan kata lain sehat) maka akan timbul suatu masalah atau gangguan kesehatan. Hal ini akan sangat merugikan penderita karena akan menurunkan produktifitas terhadap kehidupan pribadi dan negaranya. Dengan demikian perlu adanya suatu usaha-usaha untuk meningkatkan derajat kesehatan.

Menanggapi hal tersebut, Hippocrates (460-377 SM) muncul sebagai Bapak kedokteran yang menangani kasus kejadian sakit yang menitik beratkan pada kuratif atau metode pengobatan dan penyembuhan. Penyembuhan ini dilakukan setelah terjadi insiden sakit. Akan tetapi setelah perkembangan zaman, penyembuhan melalui bidang kedokteran saja tidak cukup berhasil dalam menyelesaikan masalah kesehatan di masyarakat. Setelah itu muncullah metode preventif yang mengedepankan upaya-upaya pencegahan penyakit. Hal ini dilakukan karena berdasarkan ilmu Epidemiologi atau ilmu pengetahuan yang mengenai distribusi, frekuensi dan determinan masalah kesehatan yang terjadi di masyarakt serta aplikasinya dalam memecahkan masalah kesehatan masyarakat.

Bidang epidemiologi lebih fokus pada pencegahan dan pengendalian penyakit bukan pada teknik pengobatan sekunder dan tersier yang ada dalam ilmu pengobatan tradisional. Pengertian pencegahan secara umum adalah mengambil tindakan terlebih dahulu sebelum kejadian. Dalam mengambil langkah-langkah pencegahan, haruslah didasarkan pada data atau keterangan yang bersumber dari hasil analisis dari epidemiologi. Pencegahan penyakit  berkembang secara terus menerus dan pencegahan tidak hanya ditujukan pada penyakit infeksi saja, tetapi pencegahan penyakit non-infeksi, seperti yang dianjurkan oleh James Lind yaitu makanan sayur dan buah segar untuk mencegah penyakit scorbut. Bahkan pada saat ini pencegahan dilakukan pada fenomena non-penyakit seperti pencegahan terhadap ledakan penduduk dengan keluarga berencana.

Usaha pencegahan penyakit secara umum dikenal berbagai strategi pelaksanaan yang tergantung pada jenis, sasaran serta tingkat pencegahan. Dalam strategi penerapan ilmu kesehatan masyarakat dengan prinsip tingkat pencegahan seperti tersebut di atas, sasaran kegiatan diutamakan pada peningkatan derajat kesehatan individu dan masyarakat,  perlindungan terhadap ancaman dan gangguan kesehatan, penanganan dan pengurangan gangguan serta masalah kesehatan, serta usaha rehabilisasi lingkungan.

 Tujuan pencegahan penyakit adalah menghalangi perkembangan penyakit dan kesakitan sebelum sempat berlanjut. Sehingga diharapkan upaya pencegahan penyakit ini mampu menyelesaikan masalah kesehatan di masyarakat dan menghasilkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.

B.            Tujuan

Berdasarkan permasalahan yang telah terpapar diatas maka tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan mengenai pencegahan penyakit dan memahami tingkatan pencegahan serta memahami bagaimana cara dan upaya pencegahan penyakit.

 

 

 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Epidemiologi merupakan ilmu dasar pencegahan dengan sasaran utama adalah mencegah dan menanggulangi penyakit dalam masyarakat. Secara umum, pencegahan yaitu mengambil tindakan terlebih dahulu sebelum kejadian. Tujuan utama pencegahan penyakit adalah menghalangi perkembangan penyakit dan kesakitan sebelum sempat berlanjut kea rah yang lebih parah. Konsep pencegahan meluas, mencakup langkah-langkah untuk mengganggu atau memperlambat penyakit atau kelainan.

A.   Pengertian Pencegahan

Pencegahan adalah mengambil suatu tindakan yang diambil terlebih dahulu sebelum kejadian, dengan didasarkan pada data/keterangan yang bersumber dari hasil analisis epidemiologi atau hasil pengamatan/penelitian epidemiologi (Nasry, 2006). Pencegahan merupakan komponen yang paling penting dari berbagai aspek kebijakan publik (sebagai contoh pencegahan kejahatan, pencegahan penyalahgunaan anak, keselamatan berkendara), banyak juga yang berkontribusi secara langsung maupun tidak langsung untuk kesehatan. Konsep pencegahan adalah suatu bentuk upaya sosial untuk promosi, melindungi, dan mempertahankan kesehatan pada suatu populasi tertentu (National Public Health Partnership,  2006).

 

B.     Tingkat pencegahan

Salah satu kegunaan pengetahuan tentang riwayat alamiah penyakit adalah untuk dipakai dalam merumuskan dan melakukan upaya pencegahan. Artinya, dengan mengetahui perjalanan penyakit dari waktu ke waktu serta perubahan yang terjadi di setiap masa/fase tersebut, dapat dipikirkan upaya-upaya pencegahan apa yang sesuai dan dapat dilakukan sehingga penyakit itu dapat dihambat perkembangannya sehingga tidak menjadi lebih berat, bahkan dapat disembuhkan. Upaya pencegahan yang dapat dilakukan akan sesuai dengan perkembangan patologis penyakit itu dari waktu ke waktu, sehingga upaya pencegahan itu di bagi atas berbagai tingkat sesuai dengan perjalanan penyakit.

Dalam epidemiologi dikenal ada empat tingkat utama pencegahan penyakit, yaitu :

1.      Pencegahan tingkat awal (Priemodial Prevention)

2.      Pencegahan tingkat pertama (Primary Prevention)

3.      Pencegahan tingkat kedua (Secondary Prevention)

4.      Pencegahan tingkat ketiga (Tertiary Prevention)

Pencegahan tingkat awal dan pertama berhubungan dengan keadaan penyakit yang masih dalam tahap prepatogenesis, sedangkan pencegahan tingkat kedua dan ketiga sudah berada dalam keadaan pathogenesis atau penyakit sudah tampak. Bentuk-bentuk upaya pencegahan yang dilakukan pada setiap tingkat itu meliputi 5 bentuk upaya pencegahan sebagai berikut :

1.      Pencegahan tingkat awal (primodial prevention)

·         Pemantapan status kesehatan (underlying condition)

2.      Pencegahan tingkat pertama (Primary Prevention)

·         Promosi kesehatan (health promotion)

·         Pencegahan khusus

3.      Pencegahan tingkat kedua (Secondary Prevention)

·         Diagnosis awal dan pengobatan tepat (early diagnosis and prompt treatment)

·         Pembatasan kecacatan (disability limitation)

4.      Pencegahan tingkat ketiga (Tertiary Prevention)

·         Rehabilitasi (rehabilitation)

Tingkat pencegahan dan kelompok targetnya menurut fase penyakit

Tingkat pencegahan

Fase penyakit

Kelompok target

primordial

Kondisi normal kesehatan

Populasi total dan kelompok terpilih

Primary

Keterpaparan factor penyebab khusus

Populasi total dan kelompok terpilih dan individu sehat

secondary

Fase patogenesitas awal

Pasien

Tertiary

Fase lanjut (pengobatan dan rehabilitasi)

Pasien

Sumber : Beoglehole, WHO 1993

Hubungan kedudukan riwayat perjalanan penyakit, tingkat pencegahan dan upaya pencegahan

Riwayat penyakit

Tingkat pencegahan

Upaya pencegahan

Pre-patogenesis

Primordial prevention

Primary prevention

Underlying condition

Health promotion

Specific protection

patogenesis

Secondary prevention

 

 

Tertiary prevention

Early diagnosis and prompt treatment

Disability limitation

Rehabilitation

Sumber : Beoglehole, WHO 1993

 

Salah satu teori public health yang berkaitan dengan pencegahan timbulnya penyakit dikenal dengan istilah 5 Level Of Prevention Against Diseases. Leavel dan Clark dalam bukunya Preventive Medicine For The Doctor In His Community mengemukakan adanya tiga tingkatan dalam proses pencegahan terhadap timbulnya suatu penyakit. Kedua tingkatan utama tersebut meliputi hal-hal sebagai berikut :

1)      Fase sebelum sakit

Fase pre-pathogenesis dengan tingkat pencegahan yang disebut pencegahan primer (primary prevention). Fase ini ditandai dengan adanya keseimbangan antara agent (kuman penyakit/ penyebab), host (pejamu) dan environtment (lingkungan).

2)      Fase selama proses sakit

Fase pathogenesis, terbagi dalam 2 tingkatan pencegahan yang disebut pencegahan sekunder (secondary prevention) dan pencegahan tersier (tertiary prevention).  Fase ini dimulai dari pertama kali seorang terkena sakit yang pada akhirnya memiliki kemungkinan sembuh atau mati. 

Pada dasarnya ada 4 tingkat pencegahan penyakit secara umum, yakni pencegahan tingkat dasar (primordial prevention), pencegahan tingkat pertama (primary prevention) yang meliputi promosi kesehatan dan pencegahan khusus, pencegahan tingkat kedua (secondary prevention) yang meliputi diagnosis dini serta pengobatan yang tepat, dan pencegahan tingkat ketiga (tertiary prevention) yang meliputi pencegahan terhadap terjadinya cacat dan terakhir adalah rehabilitasi. Keempat tingkat pencegahan tersebut saling berhubungan erat sehingga dalam pelaksanaannya sering dijumpai keadaan yang tumpang tindih.

1.      Pencegahan tingkat Dasar (Primordial Prevention)

Pencegahan tingkat dasar merupakan usaha mencegah terjadinya risiko atau mempertahankan keadaan risiko rendah dalam masyarakat terhadap penyakit secara umum.

 Tujuan primordial prevention ini adalah untuk menghindari terbentuknya pola hidup social-ekonomi dan cultural yang mendorong peningkatan risiko penyakit . upaya ini terutama sesuai untuk ditujukan kepada masalah penyakit tidak menular yang  dewasa ini cenderung menunjukan peningkatannya.

Pencegahan ini meliputi usaha memelihara dan mempertahankan kebiasaan atau pola hidup yang sudah ada dalam masyarakat yang dapat mencegah meningkatnya risiko terhadap penyakit dengan melestarikan pola atau kebiasaan hidup sehat yang dapat mencegah atau mengurangi tingkat risiko terhadap penyakit tertentu atau terhadap berbagai penyakit secara umum. Contohnya seperti memelihara cara makan, kebiasaan berolahraga, dan kebiasaan lainnya dalam usaha mempertahankan tingkat risiko yang rendah terhadap berbagai penyakit tidak menular.

Selain itu pencegahan tingkat dasar ini dapat dilakukan dengan usaha mencegah timbulnya kebiasaan baru dalam masyarakat atau mencegah generasi yang sedang tumbuh untuk tidak melakukan kebiasaan hidup yang dapat menimbulkan risiko terhadap berbagai penyakit seperti kebiasaan merokok, minum alkhohol dan sebagainya. Sasaran pencegahan tingkat dasar ini terutama kelompok masyarakat usia muda dan remaja dengan tidak mengabaikan orang dewasa dan kelompok manula. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pencegahan awal ini diarahkan kepada mempertahankan kondisi dasar atau status kesehatan masyarakat yang bersifat positif yang dapat mengurangi kemungkinan suatu penyakit atau factor risiko dapat berkembang atau memberikan efek patologis. Factor-faktor itu tampaknya banyak bersifat social atau berhubungan dengan gaya hidup atau pola makan. Upaya awal terhadap tingkat pencegahan primordial ini merupakan upaya mempertahankan kondisi kesehatan yang positif yang dapat melindungi masyarakat dari gangguan kondisi kesehatan yang sudah baik.

Dari uraian diatas dapat dimengerti bahwa usaha pencegahan primordial ini sering kali disadari pentingnya apabila sudah terlambat. Oleh karena itu, epidemiologi sangat penting dalam upaya pencegahan penyakit.

2.      Pencegahan Tingkat Pertama (Primary Prevention)

Pencegahan tingkat pertama merupakan upaya untuk mempertahankan orang yang sehat agar tetap sehat atau mencegah orang yang sehat menjadi sakit (Eko budiarto, 2001). Pencegahan tingkat pertama (primary prevention) dilakukan dengan dua cara : (1) menjauhkan agen agar tidak dapat kontak atau memapar penjamu, dan (2) menurunkan kepekaan penjamu. Intervensi ini dilakukan sebelum perubahan patologis terjadi (fase prepatogenesis). Jika suatu penyakit lolos dari pencegahan primordial, maka giliran pencegahan tingkat pertama ini digalakan. Kalau lolos dari upaya maka penyakit itu akan segera dapat timbul yang secara epidemiologi tercipta sebagai suatu penyakit yang endemis atau yang lebih berbahaya kalau tumbuldalam bentuk KLB.

Pencegahan tingkat pertama merupakan suatu usaha pencegahan penyakit melalui usaha-usaha mengatasi atau mengontrol faktor-faktor risiko dengan sasaran utamanya orang sehat melalui usaha peningkatan derajat kesehatan secara umum (promosi kesehatan) serta usaha pencegahan khusus terhadap penyakit tertentu. Tujuan pencegahan tingkat pertama adalah mencegah agar penyakit tidak terjadi dengan mengendalikan agent dan faktor determinan. Pencegahan tingkat pertama ini didasarkan pada hubungan interaksi antara pejamu (host), penyebab (agent atau pemapar), lingkungan (environtment) dan proses kejadian penyakit.

Pejamu (host)                    :

perbaikan status gizi, status kesehatan dan pemberian imunisasi.

Penyebab (agent)               :

menurunkan pengaruh serendah mungkin seperti dengan  penggunaan desinfeksi, pasteurisasi, sterilisasi, penyemprotan insektisida yang dapat memutus rantai penularan.

Lingkungan (environment):

perbaikan lingkungan fisik yaitu dengan perbaikan air bersih, sanaitasi lingkungan dan perumahan.

 

Usaha pencegahan penyakit tingkat pertama secara garis besarnya dapat dibagi dalam usaha peningkatan derajat kesehatan dan usaha pencegahan khusus. Usaha peningkatan derajat kesehatan (health promotion) atau pencegahan umum yakni meningkatkan derajat kesehatan perorangan dan masyarakat secara optimal, mengurangi peranan penyebab dan derajat risiko serta meningkatkan lingkungan yang sehat secara optimal. contohnya makan makanan bergizi seimbang, berperilaku sehat, meningkatkan kualitas lingkungan untuk mencegah terjadinya penyakit misalnya, menghilangkan tempat berkembang biaknya kuman penyakit, mengurangi dan mencegah polusi udara, menghilangkan tempat berkembang biaknya vektor penyakit misalnya genangan air yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes atau terhadap agent penyakit seperti misalnya dengan memberikan antibiotic untuk membunuh kuman.

Adapun usaha pencegahan khusus (specific protection) merupakan usaha yang ter-utama ditujukan kepada pejamu dan atau pada penyebab untuk meningkatkan daya tahan maupun untuk mengurangi risiko terhadap penyakit tertentu. Contohnya yaitu imunisasi atau proteksi bahan industry berbahaya dan bising, melakukan kegiatan kumur-kumur dengan larutan Flour untuk mencegah terjadinya karies pada gigi. Sedangkan terhadap kuman penyakit misalnya mencuci tangan dengan larutan antiseptic sebelum operasi untuk mencegah infeksi, mencuci tangan dengan sabun sebelum makan untuk mencegah penyakit diare.  

Terdapat dua macam strategi pokok dalam usaha pencegahan primer, yakni : (1) strategi dengan sasaran populasi secara keseluruhan dan (2) strategi dengan sasaran hanya terbatas pada kelompok risiko tinggi. Strategi pertama memiliki sasaran lebih luas sehingga lebih bersifat radikal, memiliki potensi yang besar pada populasi dan sangat sesuai untuk sasaran perilaku. Sedangkan pada strategi kedua, sangat mudah diterapkan secara individual, motivasi subjek dan pelaksana cukup tinggi serta rasio antara manfaat dan tingkat risiko cukup baik.

Pencegahan pertama dilakukan pada masa sebelum sakit yang dapat berupa :

a)      Penyuluhan kesehatan yang intensif.

b)      Perbaikan gizi dan penyusunan pola menu gizi yang adekuat.

c)      Pembinaan dan pengawasan terhadap pertumbuhan balita khususnya anak-anak, dan remaja pada umumnya.

d)     Perbaikan perumahan sehat.

e)      Kesempatan memperoleh hiburan yang sehat untuk memungkinkan pengembangan kesehatan mental maupu sosial.

f)       Nasihat perkawinan dan pendidikan seks yang bertanggung jawab.

g)      Pengendalian terhadap faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi timbulnya suatu penyakit.

h)      Perlindungan terhadap bahaya dan kecelakaan kerja.

Pencegahan primer merupakan upaya terbaik karena dilakukan sebelum kita jatuh sakit dan ini adalah sesuai dengan “konsep sehat” yang kini dianut dalam kesehatan masyarakat modern.

3.      pencegahan tingkat kedua (secondary prevention)

            Sasaran utama pada mereka yang baru terkena penyakit atau yang terancam akan menderita penyakit tertentu melalui diagnosis dini untuk menemukan status patogeniknya serta pemberian pengobatan yang cepat dan tepat. Tujuan utama pencegahan tingkat kedua ini, antara lain untuk mencegah meluasnya penyakit menular dan untuk menghentikan proses penyakit lebih lanjut, mencegah komplikasi hingga pembatasan cacat. Usaha pencegahan penyakit tingkat kedua secara garis besarnya dapat dibagi dalam diagnosa dini dan pengobatan segera (early diagnosis and promt treatment) serta pembatasan cacat.

            Tujuan utama dari diagnosa dini ialah mencegah penyebaran penyakit bila penyakit ini merupakan penyakit menular, dan tujuan utama dari pengobatan segera adalah untuk mengobati dan menghentikan proses penyakit, menyembuhkan orang sakit dan mencegah terjadinya komplikasi dan cacat. Cacat yang terjadi diatasi terutama untuk mencegah penyakit menjadi berkelanjutan hingga mengakibatkan terjadinya kecacatan yang lebih baik lagi.  

Salah satu kegiatan pencegahan tingkat kedua adalah menemukan penderita secara aktif pada tahap dini. Kegiatan ini meliputi : (1) pemeriksaan berkala pada kelompok populasi tertentu seperti pegawai negeri, buruh/ pekerja perusahaan tertentu, murid sekolah dan mahasiswa serta kelompok tentara, termasuk pemeriksaan kesehatan bagi calon mahasiswa, calon pegawai, calon tentara serta bagi mereka yang membutuhkan surat keterangan kesehatan untuk kepentingan tertentu ; (2) penyaringan (screening) yakni pencarian penderita secara dini untuk penyakit yang secara klinis belum tampak gejala pada penduduk secara umum atau pada kelompok risiko tinggi ; (3) surveilans epidemiologi yakni melakukan pencatatan dan pelaporan sacara teratur dan terus-menerus untuk mendapatkan keterangan tentang proses penyakit yang ada dalam masyarakat, termasuk keterangan tentang kelompok risiko tinggi.

Selain itu, pemberian pengobatan dini pada mereka yang dijumpai menderita atau pemberian kemoprofilaksis bagi mereka yang sedang dalam proses patogenesis termasuk mereka dari kelompok risiko tinggi penyakit menular tertentu.

4.      pencegahan tingkat ketiga (tertiary prevention)

Pencegahan pada tingkat ketiga ini merupakan pencegahan dengan sasaran utamanya adalah penderita penyakit tertentu, dalam usaha mencegah bertambah beratnya penyakit atau mencegah terjadinya cacat serta program rehabilitasi. Tujuan utamanya adalah mencegah proses penyakit lebih lanjut, seperti pengobatan dan perawatan khusus penderita kencing manis, tekanan darah tinggi, gangguan saraf dan lain-lain serta mencegah terjadinya cacat maupun kematian karena penyebab tertentu, serta usaha rehabilitasi.

Rehabilitasi merupakan usaha pengembalian fungsi fisik, psikologis dan sosial seoptimal mungkin yang meliputi rehabilitasi fisik/medis (seperti pemasangan protese), rehabilitasi mental (psychorehabilitation) dan rehabilitasi sosial, sehingga setiap individu dapat menjadi anggota masyarakat yang produktif dan berdaya guna.

 


BAB III

 KESIMPULAN

Upaya pencegahan yang dapat dilakukan akan sesuai dengan perkembangan patologis penyakit itu dari waktu ke waktu, sehingga upaya pencegahan itu di bagi atas berbagai tingkat sesuai dengan perjalanan penyakit.

Dalam epidemiologi dikenal ada empat tingkat utama pencegahan penyakit, yaitu :

·         Pencegahan tingkat awal (Priemodial Prevention)

·         Pencegahan tingkat pertama (Primary Prevention)

·         Pencegahan tingkat kedua (Secondary Prevention)

·         Pencegahan tingkat ketiga (Tertiary Prevention)

penanggulangan penyakit menular (control) adalah upaya untuk menekan peristiwa penyakit menular dalam masyarakat serendah mungkin sehingga tidak merupakan gangguan kesehatan bagi masyarakat tersebut. Penanggulangan penyakit menular dapat pula dikelompokan pada tiga kelompok sesuai dengan sasaran utamanya yang meliputi: sasaran langsung melawan sumber penularan atau reservoir, sasaran ditunjukan pada cara penularan penyakit, dan sasaran yang ditunjukan terhadap pejamu dengan menurunkan kepekaan pejamu.

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Budiarto, Eko & Dewi Anggraeni. 2003. Pengantar Epidemiologi edisi 2. Jakarta : EGC.

C.Timmreck, Thomas. 2005. Epidemiologi Suatu Pengantar edisi 2. Jakarta : EGC.

Rajab, Wahyudin. 2009. Buku Ajar Epidemiologi untuk Kebidanan. Jakarta : EGC.       

Ryadi, slamet & T. Wijayanti. 2010. Dasar-Dasar Epidemiologi. Jakarta : Salemba Medika.

Soemirat, Juli. 1999. Epidemiologi Lingkungan. Yogyakarta : Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

 

 


Kesehatan

Gangguan Psikologi Pada Masa Nifas

  BAB I PENDAHULUAN A.     LATAR BELAKANG Patologi kebidanan adalah salah satu masalah dalam pelayanan kesehatan dan harus dikenali ...